Jaket Hijau di Bawah Langit Jakarta

Jaket Hijau di Bawah Langit Jakarta

Hujan sore itu turun dengan wajah muram. Langit Jakarta menggantung kelabu, seakan ikut menunduk. Jalanan berkilau oleh genangan, lampu-lampu kendaraan memantul bagai kilatan luka. Di sebuah tikungan yang riuh oleh sirene dan teriakan, sebuah jaket hijau tergeletak. Basah, kotor, dan sunyi.

Pemiliknya tak sempat memungut kembali. Ia, yang saban hari menggantungkan hidup pada motor tua dan layar ponsel yang tak henti berdering, pergi dalam sekejap. Hilang dari denyut kota, meninggalkan rumah kecil yang menunggunya di timur Jakarta.

Rumah itu sederhana. Dinding cat mulai mengelupas, atap seng berisik bila hujan turun. Tapi di dalamnya selalu ada kehangatan. Seorang istri gemar menyiapkan masakan sederhana sambil menanti kepulangan suaminya. Kadang nasi goreng yang digoreng buru-buru, kadang hanya tempe hangat.

Bagi sang suami, sepiring tempe goreng adalah surga setelah seharian menembus macet dan polusi.

“Enak sekali,” ucapnya suatu malam, meski lauk hanya itu.

Sang istri tersenyum malu, pura-pura mengomel. Tawa kecil pun lahir, disambut pelukan sederhana. Bagi mereka, kebahagiaan tak perlu mewah: cukup bisa duduk bersama, cukup bisa melihat anak semata wayang mereka menendang bola plastik di ruang tamu dengan tawa riang.

Tiga hari sebelum tragedi, sang ayah sempat berjanji kepada anaknya.

“Kalau minggu depan libur, kita ke taman ya. Belajar sepeda sampai bisa lepas roda bantu.”

Mata kecil itu berbinar. “Janji?”

“Janji,” jawab ayah, sambil mengaitkan kelingkingnya.

Janji sederhana, tapi menjadi harta berharga bagi anak yang hidupnya masih penuh harapan.

Hari itu datang membawa malapetaka. Ia hanya ingin menjemput penumpang. Jalurnya melewati kawasan gedung tinggi di pusat kota. Ia tahu ada kerumunan, tapi jalan itu yang paling cepat.

Namun kota besar selalu menyimpan kejutan pahit. Teriakan pecah, massa berlarian, sirene meraung, dan kendaraan baja melintas dingin. Dalam hitungan detik, hidup seseorang bisa terhenti.

Tubuh itu terhempas. Jaket hijau terlepas, jatuh di genangan air, membisu di antara ribut kericuhan.

Di rumah, istri masih menunggu. Jam hampir tengah malam, tak ada kabar. Biasanya, meski pulang larut, selalu ada pesan singkat. Malam itu layar ponsel kosong.

Ketika telepon akhirnya berdering, suara di seberang membuat tubuhnya gemetar.

“Maaf… ini dari rumah sakit. Suami Ibu mengalami musibah.”

Dunia runtuh seketika. Nafas tersengal, tubuh limbung.

Anak kecil yang duduk di samping bertanya polos, “Ayah kenapa? Katanya mau pulang cepat.”

Ibu tak sanggup menjawab. Ia hanya memeluk tubuh mungil itu, menangis tanpa suara.

Esoknya, rumah penuh sesak. Wajah-wajah muram berdatangan, sebagian besar mengenakan jaket hijau serupa. Mereka adalah saudara seperjalanan, sesama pengemudi jalanan yang tahu betul beratnya hidup.

Ambulans berhenti. Peti kayu diturunkan. Teriakan tangis pecah ketika tubuh yang sudah dibungkus kain putih dibawa masuk.

Anak berlari mendekat, suaranya bening:

“Ayah… ayo bangun. Kita kan mau main sepeda.”

Kalimat itu menghunjam siapa pun yang mendengarnya.

Di pemakaman, doa dilantunkan. Tanah basah menutup perlahan. Sang istri jatuh terduduk, tangannya menggenggam erat tangan anak, sementara air matanya mengalir tanpa henti.

Malam itu, puluhan pengemudi berkumpul di sebuah sudut kota. Mereka menyalakan lilin, menempelkan selembar foto, lalu berdiri bersama dalam diam.

“Dia bukan sekadar rekan. Dia saudara. Kami akan merindukannya di setiap deru motor,” ucap salah satu dengan suara bergetar.

Jakarta tetap bising. Berita di televisi menayangkan permintaan maaf, janji keadilan. Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, semua kata-kata itu hanyalah gema. Tak ada yang bisa menggantikan pelukan hangat. Tak ada yang bisa mengisi kursi kosong di meja makan.

Hari-hari berjalan lambat. Motor tua kini terdiam di garasi. Jaket hijau dilipat rapi, bukan lagi seragam kerja, melainkan kenangan.

Suatu malam, anak itu duduk di samping motor. Tangannya mengusap jok yang dingin.

“Ayah, aku janji bakal bisa naik sepeda sendiri. Jadi Ayah jangan khawatir di sana.”

Sang ibu mendengar dari kejauhan. Ia menutup mulut, menahan tangis agar anaknya tak tahu betapa hancur hatinya. Dalam doa lirih, ia memohon agar anak itu kelak tumbuh sekuat ayahnya—lelaki sederhana yang meninggalkan cinta tak tergantikan.

Jakarta terus berputar. Ribuan motor masih melaju, membawa penumpang, mengejar nafkah. Namun di setiap deru mesin, ada bayangan yang ikut menumpang.

Hidup harus terus berjalan. Sang ibu belajar menjadi ayah sekaligus ibu. Namun di setiap malam, ketika lampu padam dan hanya sunyi yang tersisa, ia selalu berbisik:

“Tunggu dalam doa. Jaga kami dari jauh.”

Dan di setiap doa anaknya, sosok sang ayah selalu hadir. Meski tubuh tiada, cintanya tak pernah benar-benar pergi. Ia menyala—seperti lilin kecil di tengah angin, bertahan, memberi cahaya.(*)

Posting Komentar untuk "Jaket Hijau di Bawah Langit Jakarta"